Menjinakkan Harga Cabai

Seperti kuda lepas dari pelana, harga cabai bergerak tanpa kendali, naik turun bagai roller coaster. Sejak awal tahun 2017 harga cabai rawit melonjak tinggi. Hingga minggu keempat Februari, harganya belum ada tanda-tanda turun. Di berbagai daerah harga cabai kian menggila, menyentuh Rp 150 ribu/kg. Tangan-tangan negara tak kuasa menjangkau. Hukum besi pasar: keseimbangan permintaan dan ketersediaan seolah usang.

Hujan deras yang turun di berbagai daerah membuat panen cabai rawit gagal. Kalau pun dipanen, kualitasnya buruk. Hujan diperkirakan akan turun hingga Maret. Jika kondisi tidak membaik, kemungkinan besar harga cabai tetap tinggi dan jadi penyumbang utama inflasi. Dari inflasi Januari 2017 sebesar 0,97% sumbangan cabai mencapai 10%. Ini cukup besar. Tahun 2016, porsi inflasi dari cabai saja mencapai 13,87% dari total inflasi 3,02%. Cabai telah menggeser beras sebagai penyumbang inflasi terbesar.

Secara agregat, sebetulnya produksi cabai kita, baik cabai merah maupun rawit, surplus. Masalahnya, pertama, produksi tidak merata sepanjang tahun. Ada bulan-bulan surplus besar, ada pula bulan-bulan minus atau paceklik. Sementara permintaan cabai hampir konstan.

Kedua, seperti komoditas hortikultura umumnya, cabai gampang rusak. Agar’tidak rusak, cabai harus segera didistribusikan dari sentra produsen ke sentra konsumen. Atau diolah jadi bahan olahan, sehingga memiliki daya simpan lebih lama.

Kedua langkah ini berbenturan dengan persoalan yang tidak mudah. Distribusi ke daerah-daerah bukan penghasil cabai terkendala infrastruktur yang tidak merata, baik sarana transportasi, jalan, ‘pelabuhan maupun infrastruktur non-fisik. Ujungnya bisa dua: kalau cabai tidak busuk, ya harganya tinggi. Mengolah cabai juga masih berbenturan dengan selera konsumen yang lebih suka cabai segar. Beragam alasan muncul. Dari soal aroma, rasa, sensasi hingga paranoid terhadap makanan olahan berbahan pengawet.

Apa pun persoalannya, diakui atau tidak, sistem distribusi cabai memang belum efisien. Survei pola distribusi perdagangan pangan pokok dan strategis di 34 provinsi dan 186 kabupaten/kota (BPS, 2015) mengafirmasi itu. Survei menemukan distribusi perdagangan beras, cabai merah, bawang merah, jagung pipilan, dan daging ayam ras dari produsen sampai ke konsumen akhir melibatkan 2-9 fungsi kelembagaan usaha perdagangan. Marjin perdagangan dan pengangkutan cabai merah sebesar 25,33%. Margin yang dinikmati pedagang cabai terlalu besar. Idealnya margin tak lebih dari 10%;

Masing-masing titik distribusi mengutip maijin yang membuat harga akhir di konsumen melambung. Pasar menjadi tidak terkendali karena ditopang rantai pasok dan jalur rantai distribusi yang centang perenang.

Implikasinya, pasar tidak betjalan sempurna karena ruang informasi dalam posisi asimetris (Stiglitz, 2005). Ditambah pasar yang oligopoli membuat negara kian tidak berdaya mengendalikan harga pangan. Saat pasar tidak sempurna, harga bisa diciptakan, bahkan disulap, dengan menciptakan “kelangkaan seolah-olah”. Pasar seolah-olah langka, padahal kelangkaan itu disulap oleh pengendali pasar. Petani cabai memang untung, tapi keuntungan terbesar justru dinikmati pedagang.

Instabilitas harga cabai merupakan fenomena tahunan yang terus berulang. Tak terhitung berapa tenaga, energi dan sumber daya yang kita keluarkan untuk mengatasi masalah laten ini. Mitigasi dan solusi yang ditawarkan selalu diputar ulang dan itu-itu saja. Semua heboh saat harga melonjak. Setelah itu lupa atau pura-pura lupa. Mustinya bisa dicari cara-cara yang cerdas agar penyakit tahunan ini bisa diputus mata rantainya.

Pertama, memetakan daerah dan kapasitas produksi cabai. Lewat pemetaan ini akan diketahui jelas dan rincian kapasitks produksi di berbagai daerah sentra produksi cabai. Dengan data itu, pemerintah dengan mudah bisa mengatur distribusi silang antardaerah. Jika sebuah daerah kekurangan produksi cabai, daerah lain yang membutuhkan dengan cepat bisa disuplai dari daerah surplus cabai. Pada saat musim hujan, agar suplai cabai tetap ada, petani bisa didorong menanam cabai yang tahan hujan atau menggunakan teknologi yang ramah hujan. Cara-cara ini untuk memastikan suplai cabai terjaga baik.

Yang tidak kalah penting adalah memetakan daerah penyangga sebagai produsen cabai. Daerah penyangga ini harus berada di wilayah konsumen yang kebutuhannya amat besar. Ada dua fungsi daerah penyangga. Selain untuk memasok rutin kebutuhan wilayah setempat, juga sebagai “senjata” apabila teijadi gejolak harga cabai di pasar. Cabai dari daerah penyangga ini bisa dimanfaatkan untuk operasi pasar di daerah yang harganya tinggi. Dengan cara ini, peluang pedagang nakal untuk mempermainkan harga bisa ditutup.

Kedua, mengedukasi konsumen pentingnya mengonsumsi cabai olahan. Pada saat off season atau bukan musim panen, konsumen didorong memanfaatkan cabai olahan. Memang, antara cabai olahan dengan cabai segar berbeda rasa dan aroma. Namun demikian, sensasi pedas antara cabagai olahan dan yang segar bisa dipastikan tidak berbeda. Lebih dari itu, mengonsumsi cabai olahan juga membantu pemerintah -mengatasi instabilitas harga yang ujung-ujungnya juga akan membantu dalam menjinakkan inflasi.

Ketiga, memanfaatkan pekarangan untuk menanam cabai, seperti saya ulas dalam tulisan “Pekarangan yang Dilupakan” (Investor, 18/1/2017). Mengelola negeri dengan puluhan ribu pulau, kondisi ekologis dan infrastruktur yang amat beragam tentu tak semudah menakhodai Singapura atau Korea Selatan yang daratan. Saat ada gangguan distribusi, gejolak harga jadi keniscayaan. Harga makin sulit dijinakkan bila pada saat yang sama ada gangguan produksi. Rutinitas tahunan gejolak harga pangan, termasuk cabai, tidak sepenuhnya salah pemerintah. Sikap warga yang mudah panik lalu membeli besar-besaran, bahkan menimbun, membuat situasi makin tidak mudah.

Menyerahkan segala hal menjadi tanggung jawab pemerintah jelas tidak pada tempatnya. Warga, dengan segenap sumber daya yang dimiliki, seharusnya bisa jadi bagian solusi. Di sebagian besar rumah warga ada pekarangan atau halaman yang bisa dimanfaatkan. Selama ini pekarangan kurang dilirik. Padahal, potensinya cukup besar. Pada 2010 luas pekarangan di Indonesia 10,3 juta hektare, lebih besar dari luas sawah.

Betapa pun kecilnya luas’ pekarangan, warga bisa mengusahakan untuk praktik bertanam. Selain tanaman obat, aneka komoditas hortikultura (seperti cabai, dan tomat) serta pelbagai sayuran (kangkung, sawi, bayam) bisa ditanam bersamaan. Bisa pakai sistem akuaponik, hidroponik atau aeroponik. Biaya teijangkau, dan secara teknis mudah dipraktikkan. Yang dibutuhkan adalah ketekunan. Cabai misalnya, bisa dipanen mulai umur 90 hari sampai 6 bulan. Tiap minggu cabai bisa dipetik 2-3 kali. Satu pohon’ menghasilkan 115 cabai, lebih dari cukup untuk kebutuhan 5 keluarga.

Khudori

Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat (2010-sekarang), pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *